Hallo….
Hai….
Sepertinya aneh tiba-tiba ngeshare tulisan saya disini setelah sekian lama menghilang dari dunia per-blog-an.
TBH, ini karena aku lupa password hehe…
Nah, untuk mengawali comeback ku di blog ini… Aku pengin ceirta….
So, on Oct. 01 2016 finally I've read Kafka on the Shore (bahasa Indonesianya Kafka di Tepi Pantai).
Dan satu kata dari saya untuk novel ini; membius.
Kafka on the Shore adalah novel yang memikat, menghibur, dan sangat membius. Dengan dua tokoh utama yang menurut saya begitu mengagumkan.
Kafka on the Shore is a 2002 novel by Japanese author Haruki Murakami.
Originally published: 2002
Author: Haruki Murakami
Page count: 615
Original title: 海辺のカフカ; Umibe no Kafuka
Characters: Kafka Tamura, Miss Saeki, Satoru Nakata, Oshima, Hoshino
Genres: Novel, Fiction, Speculative fiction, Magical Realism
Review:
Kafka Tamura, bocah lelaki lima belas tahun yang semenjak usia empat tahun telah ditinggalkan ibu dan kakak perempuannya; dan Nakata, orang tua, yang menjadi korban dari sebuah peristiwa sial yang menimpanya di masa Perang Dunia II dimana dia kehilangan kemampuan membaca-menulis semenjak peristiwa tersebut.
Alur cerita sangat menarik, berkelok-kelok, dan penuh teka teki yang saya sendiri pun masih belum sepenuhnya mengerti.
Kafka Tamura digambarkan sebagai wujud lain dari Oedipus, yang mengawini ibunya sendiri. Kalau cerita versi Indonesianya si, Legenda Sangkuriang. Sejak Kafka masih belia, ayahnya menorehkan ramalan; lebih tepatnya kutukan pada dirinya bahwa suatu saat dia akan membunuh ayahnya, serta meniduri ibu dan kakak perempuannya. Sementara Nakata, lelaki tua aneh yang hilang separuh "bayangannya", adalah wujud semu dari Kafka.
Kafka, pada hari ulang tahunnya yang kelima belas, memutuskan untuk kabur dari rumah meninggalkan ayahnya di Nakano menuju Takamatsu. Takdir begitu ajaib, perjalanan yang dilewatinya mempertemukan dia dengan Sakura (yang tak lain adalah kakak perempuannya), Nona Saeki; ibunya. Serta pertemanannya dengan Oshima, seorang wanita yang sangat kelaki-lakian.
Pada awalnya saya masih tidak paham, sebenarnya Nakata memainkan peran apa dalam cerita ini. Tapi ternyata, Haruki Murakami benar-benar jenius dalam menggagas jalan ceritanya. Diceritakan bahwa Nakata telah membunuh seorang pria bernama "Johnny Walker" yang tidak lain adalah ayah Kafka. Nakata mengambil alih peran Kafka, dimana seharusnya Kafka lah yang mebunuh ayahnya. Oleh karenanya Nakata memulai perjalanan pelarian diri untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulai. Disini ternyata Nakata memegang peranan penting untuk mengembalikan sesuatu yang salah ke tempat yang semestinya. Bersama dengan Hoshino, seorang bekas anggota Angkatan Bersenjata Nakata memulai perjalanan mengenaskan dan menakjubkan dari Nakano menuju Takamatsu.
Ini adalah kedua kalinya saya membaca karya Haruki Murakami setelah saya sebelumnya membaca Norwegian Wood. Saya cenderung lebih menyukai Kafka on the Shore. Di novel ini ada daya tarik sendiri, seperti membaca sebuah hikayat, cerita dalam Kafka on the Shore dibumbui oleh hal-hal magis yang tidak dapat dijelaskan oleh akal pikiran saya. (Ini menurut saya, lho).
Well, ada banyak kata-kata (quotes) yang saya dapatkan dari novel 597 halaman ini. Let's see…
- Kau sudah memutuskan yang ingin kau lakukan, dan yang diperlukan sekarang adalah mulai bertindak. Maksudku, ini hidupmu. Pada prinsipnya, kau harus melakukan yang menurutmu baik.
- Bukan berarti melarikan diri bakal menyelesaikan segalanya. Aku tidak akan menghalangimu sama sekali. Tapi, tidak peduli seberapa jauh pun kau pergi. Jarak tidak sanggup menyelesaian apa pun.
- Kadang-kadang nasib ibarat badai pasir kecil yang terus menerus berubah arah. Kau mengubah arahmu tapi badai pasir itu terus mengejarmu. Kau berbalik, badai itu tetap mengikutimu. Kau melakukan hal yang sama terus menerus, seakan menari-nari denan kematian menjelang fajar. Mengapa? Karena badai itu bukanlah sesuatu yang bertiup dari kejauhan. Bukan sesuatu yang tidak ada hubungannya denganmu. Badai ini adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang ada dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan hanyalah menyerah, masuk ke dalam badai itu, menutup mata serta telingamu, sehingga pasirnya tidak dapat masuk, lantas berjalan melewatinya langkah demi langkah. Tidak ada matahari, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada waktu. Hanya pasir putih yang berputar-putar naik ke angkasa layaknya tulang belulang yang hancur lebur. Dan kau benar-benar harus melewati badai yang hebat itu, tak peduli betapapun hebatnya badai itu, jangan sampai salah; ia akan sanggup menembus tubuhmu seperti seribu silet tajam. Orang-orang akan berdarah, dan kau pun akan berdarah. Darah yang merah dan panas. Kan akan mengusap darah itu dengan kedua tanganmu, darahmu sendiri dan darah orang lain. Dan begitu badai berhentu, kau tidak akan ingat bagaiman kau telah melewatinya, bagaimana kau mampu bertahan. Malahan sebenarnya kau tak yakin badai itu sudah benar-benar berhenti. Tapi satu hal yang pasti, setelah kau berhasil keluar dari badai itu, kau tidak bakal menjadi orang yang sama. Itulah tujuan dari badai tersebut.
- Hari ini adalah masa lalu yang tidak dapat diraih lebih dahulu yang menelan masa depan. Sebenarnya semua kenikmatan tinggal kenangan.
- Pada saat yang sama dimana "aku" adalah makna dalam suatu hubungan, "aku" jugalah yang membuat hubungan itu ada.
- Punya sesuatu yang melambangkan kebebasan barangkali membuat seseorang lebih bahagia daripada mendapatkan kebebasan itu sendiri. Mungkin sebagian besar manusia menganggap diri mereka bebas. Itu hanya ilusi. Kalau mereka benar-benar bebas, berarti ada sebagian manusia yang tidak bebas. Kau harus ingat itu. Dan, manusia sebenarnya lebih suka tidak bebas.
- Aku ingin memeluknya, sekaligus mengetahui makna dari setiap gerakan tubuhnya. Tapi aku tidak ada di sana. Aku sendirian, di tempat yang jauh dari siapapun. Aku naik ke tempat tidur dan mematikan lampu, berharap dia akan muncul di hadapanku malam ini. Tidak penting dia muncul dalam wujud yang mana-mimpi-roh, atau bayangannya. Tapi, aku benar-benar ingin bertemu dia. Otakku begitu penuh dengan dia hingga hampir meledak, dan tubuhku akan hancur berkeping-keping. Tapi, tak peduli betapapun aku menginginkan kehadirannya, tak peduli berapa lama aku menunggu, dia tidak pernah muncul. Yang aku dengar hanyalah gemerisik angin di luar, dan binatang-binatang malam yang mendengkur perlahan dalam kepekatan malam. Aku menahan napas, menatap ke dalam keremangan. Aku mendengarkan suara angin, mencoba memahami sesuatu di dalam angin, berusaha menangkap makna yang terkandung di dalamnya. Tapi semua yang mengelilingiku adalah bayangan kekelaman yang berbeda. Akhirnya aku menyerah, menutup mataku, dan tidur.
- Aku sungguh-sungguh tidak mengerti. Mengapa menyayangi seseorang berarti kau juga harus menyakiti mereka? Maksudku, kalau memang harus seperti itu, lantas apa artinya menyayangi seseorang? Mengapa harus begitu?
- Berada bersamamu membuatku merasa sakit, seolah sebilah pisau yang sangat dingin menusuk dadaku. Sakit yang luar biasa, tapi anehnya aku malah bersyukur. Sepertinya rasa sakit yang beku itu dan keberadaanmu adalah satu hal yang tidak bisa dipisahkan. Rasa sakit itu ibarat jangkar yang mebuatku berlabuh di sini; bersamamu. Sementara aku memakan makananku, aku memperhatikanmu memakan makananmu dengan lahap; seperti biasanya. Aku ingin mengatakan sesuatu, ingin mengatakan banyak hal, tapi saat bersamamu, kata-kata seolah tidak lagi berfungsi sebagaimana mestinya. Atau mungkinkah makna yang menyatukan kata-kata tersebut telah hilang. Seperti ada jarak, dan aku menyadari itu. Kita yang kemarin tidak sama dengan kita yang sekarang. Aku tidak dingin; seperti katamu. Aku hanya memposisikan diri, mencoba melindungi hatiku.
- Aku ingin kau mengingatku. Bila kau mengingatku, maka aku tidak peduli jika orang lain melupakan aku.
Nah, demikian tadi beberapa quotes yang saya dapatkan dari novel Kafka on the Shore. Ingin tahu cerita lengkapnya seperti apa? Minimal pinjam buku di perpus dan baca bukunya. Syukur-syukur kalau mau beli.
Untuk kalian yang berada di area Jogja, di Perpustakaan Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Grhatama Pustaka ada bukunya dan bisa kalian pinjam.
Yukkk budayakan membca buku :)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar